Surprising Japan Okujou: Shirakawago - Takayama Old Town (Day 04)


Haaiiii

Apa kabar?

Maafkan daku lama tidak ngeblog. Bulan Desember aku baru aja mengucapkan janji suci alias nikah (cieeeh~) xD
Membiasakan diri dalam kehidupan rumah tangga ternyata memakan waktu. Waktu luang jadi semakin sedikit karena kerjaan rumah tangga. Belum lagi kudu main game online, baca komik, nonton tv series, nonton movie #ehh Muahahaha

***

Hari ke-empat di Jepang bersama Golden Rama Tour.

Semalam kami menginap di hotel yang beronsen dan kamar semi tradisional lagi (pengalaman beronsen dapat dilihat di post ini). Kali ini kami sekeluarga memakai yukata, termasuk Selina, keponakanku yang berumur 1,5 tahun. Selina termasuk anak yang beruntung, sudah ke singapore dan hongkong sewaktu di dalam kandungan, sekarang ke Jepang. Ga heran anaknya suka jokka (bahasa makassar; artinya jalan-jalan). Jika ia melihat orang rumah yang mau pergi, dia mau ikut dan langsung duduk pakai sepatu.
Ibu-ibu di Hotel memakaikan yukata ke Selina dan terus-terusan memanggil 'Serina chan kawaii'

Shirakawago
Tibalah saatnya mengunjungi highlight tour, Shirakawago (白川郷). Kami turun dari arah barat, yaitu di parkiran bus sebelum jembatan dan sungai shokawa. Map Shirakawago dapat dilihat di bawah.
Map Shirakawago (klik pada gambar untuk zoom in)

Briefing Sebelum Berpencar
Naik Tangga ke Jembatan
Sungai Shokawa


Shirakawago terdaftar di UNESCO world heritage site pada tahun 1995 karena terkenal dengan rumah tradisionalnya yang berusia lebih dari 250 tahun. Bentuk rumah di Shirakawago dinamakan gasshō-zukuri (合掌造り) karena bentuk atapnya seperti dua tangan yang dirapatkan dan berdoa (Gasshō artinya 'hands together'). Bentuk atap sengaja dibuat landai, sehingga saat musim dingin salju tidak menumpuk dan tidak membuat atap yang terbuat dari jerami rusak. Daerah ini termasuk daerah yang bersalju tebal ketika musim dingin dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar.

Rumah gasshō-zukuri mengikuti suatu perencanaan yaitu menghadap arah timur dan barat. Menghadap arah tersebut mengikuti hembusan angin dan gerakan matahari untuk menjaga di dalam rumah adem saat musim panas dan hangat saat musim dingin. Jadi kalau pacar kalian lagi marah, coba suruh menghadap ke timur atau barat supaya hatinya jadi adem #plak





Jarak antar rumah di shirakawago tidak terlalu berdekatan supaya ketika terjadi kebakaran, api tidak merembet ke rumah lainnya. Di sekitar rumah pun dipasang alat pemadam kebakaran yang berbentuk rumah kecil (gambar di bawah). Jadi jika terjadi kebakaran, tidak perlu kocar-kacir bawa ember berisi air xD
Alat Pemadam Kebakaran
sumber
Alat Pemadam Kebakaran Sedang Bekerja
sumber
Suasana dan pemandangan di Shirakawago membuat hati menjadi damai dan rileks. Bentuk rumah tradisional yang unik seakan-akan membawa kami ke negeri dongeng, dunia yang berbeda. Tidak heran banyak wisatawan tertarik ke sini dan tersedia tour lokal dari kota Takayama ke Shirakawago. Dari blog yang saya baca, ybs mengambil paket setengah hari J-Hop Tour. Paketnya sudah termasuk tiket bus PP dan guide berbahasa Inggris dengan harga yang lebih murah daripada tiket bus only (tanpa tour).





Small Cute Squirrel (?) Statue
Sok-sokan baca koran xDD
Papa Mama In Action
Petani Henohenomoheji
Saat akan berjalan kembali ke parkiran bus, langit mulai mendung. Ketika hujan, benda yang selalu terlihat di Jepang adalah payung plastik transparan (biniiru-gasa)Walau tidak se-khas payung tradisional Jepang "Bangasa", payung ini cukup diminati orang Indonesia, salah satunya teman kantor saya. Saya sempat bertanya ke Mr. David (tour leader) kenapa di Jepang pada memakai payung transparan. Katanya, mungkin karena murah. Yah emang cukup murah, harganya sekitar ¥400-500 (Rp 44.000 - 55.000) dibanding payung lain sekitar ¥1000-2000 (Rp 110.000-220.000). Dan mungkin payung ini juga untuk sekali dua kali pakai alias mudah rusak dan mudah ditemukan di minimarket mana saja. Jadi ketika tiba-tiba hujan, bisa ngacir ke minimarket dan membeli payung ini.

Saya akhirnya membeli payung transparan di shirakawago setelah mengalami pergulatan batin selama 2 hari "muat ga di koper?" dan setelah dibeli *jreng jreng* GA MUAT! Muahahahaha.. Alhasil di-hand carry saat penerbangan Jepang-Bali dan diribetin disuruh masuk bagasi saat penerbangan Bali-Jakarta.

Me, Payung Transparan and Shirakawago
Oh ya, saya lupa menanyakan ke tour leader mengapa kami tidak singgah di Observatory Point untuk melihat desa shirakawago secara keseluruhan seperti yang sering dilakukan oleh wisatawan lainnyaApa mungkin jalur busnya berbeda karena kami bukan dari arah Takayama atau karena waktu yang terbatas? Padahal spot itu bagus banget untuk melihat pemandangan dan foto :(

Kami makan siang masih di daerah shirakawago. Makan siang kali ini lebih spesial dari sebelumnya karena ada daging Hida (飛騨牛). Daging Hida disebut daging kobe-nya Takayama. Hampir seluruh wisatawan yang ke Takayama mencoba daging ini dan mengatakan worthed. Daging hida disajikan di atas daun dan tungkus api kecil. Dagingnya lembut dan enak. Menurut Mr. David, daging kobe masih lebih enak dari daging hida, namun harganya jauh lebih mahal.

Daging Hida
Semacam Kue Dollar tapi Bergambar Rumah Shirakawago dan Lebih Enak 
Kelar Makan, Foto di Depan Toko Oleh-oleh





Takayama Old Town
Perjalanan dari shirakawago ke Takayama Old Town memakan waktu sekitar 1 jam. Takayama Old Town merupakan wilayah di kota Takayama yang rumah-rumahnya dibiarkan tetap sama seperti zaman edo (1600-1800an), jadi rumah di wilayah ini sudah berusia sekitar 400 tahun. Lama juga yah. Sama seperti di Higashi Chaya Machi (Day-03), rumah-rumah di sini dijadikan toko souvenir, toko sake, cafe, dan sebagainya.

Takayama Old Town terletak di sisi timur sungai Miya yang membentang dari utara ke selatan sedangkan sisi barat sungai ini sudah merupakan bangunan modern. Jembatan merah Nakabashi yang melintasi sungai Miya menjadi icon dari Takayama. Di pagi hari samping jembatan cukup ramai karena ada pasar.
Kota Takayama
Jembatan Merah Nakabashi
Kami dipandu oleh Mr. David ke toko sake kenalan dia dan diberi sample berbagai jenis sake. Mayan icip gratiiss.. Saya ga beli apa-apa pula (dasar cina) xD Setelah itu, kami mulai berpencar dan memasuki toko oleh-oleh satu persatu. Saya membeli gantungan kunci yang hanya bisa dibeli di Takayama, Sarubobo. Kemudian saya menemukan salah satu barang inceran yang ingin dibeli di Jepang yaitu Daruma. Di depan toko oleh-oleh yang paling besar dan berada di perempatan, banyak yang duduk santai sambil makan ice cream green tea. Ok, udah hari ke-4 di Jepang masa belum coba ice cream green tea. Ternyata ice cream-nya super duper enak! Susunya berasa banget, green tea-nya wangi dan cocok dengan susunya! Must try! Awalnya saya pikir semua ice cream green tea di Jepang seenak ini. Setelah icip di kota lain, ternyata di Takayama Old Town ini lah yang paling enak >.<






Malamnya kami nginap di Gifu Miyako Hotel dan makan malam di hotel all you can eat buffet. Hotel kali ini lebih modern dan lebih mewah dari sebelumnya *angguk-angguk*

Today is over, good night!

Inesu

My name is Ines and welcome to my blog Mochinesu. I am a traveller and blogger currently living in Australia. I write my experiences and travel stories inside this blog.

1 comment: